Senin, 02 Maret 2009

Subprime Mortgage Biang Kerok Krisis Keuangan Global

Subprime Mortgage berasal dari kata Subprime dan Mortgage. Subprime adalah di bawah standar atau tidak layak menerima kredit, Mortgage adalah hipotek atau kredit rumah dengan agunan. Subprime Mortgage berarti hipotek/kredit rumah dengan agunan yang diberikan oleh perusahaan pemberi kredit perumahan kepada penerima kredit yaitu orang yang memiliki rating perkreditan yang buruk atau berpenghasilan pas-pasan, sehingga memiliki resiko pengembalian pinjaman dengan bunga yang tinggi.

Dalam hal ini, penerima kredit sebenarnya tidak layak menerima kredit, namun persyaratan untuk menerimaan kredit dibuat mudah walaupun penerima kredit harus membayar bunga yang relatif tinggi disamping agunan properti yang dimiliki atas ketidak layakan mereka untuk menerima kredit tersebut.

Praktek pemberian kredit Subprime Mortgage ini sudah berlangsung sejak tahun 2005-2006. Praktek subprime mortgage ini untuk menjawab orang AS yang belum memilki rumah (yang dikategorikan “miskin”) tapi ingin memilki rumah. Meski beresiko tinggi, adanya jaminan rumah, uang muka, dan suku bunga tinggi telah membutakan potensi gagal bayar, kelompok warga yang rentan dengan pergerakan suku bunga dan penghasilan ini. Kredit yang diberikan termasuk panjang yakni bisa lebih dari 10 tahun pembayaran.

Pasar kredit suprime mortgage itu pun lalu ludes dilahap ratusan bank, dan ribuan lembaga keuangan. Di AS, selain bank komersial terdapat pula bank investasi dan lembaga kredit yang boleh menyalurkan kredit kepada perusahaan mortgage. Pasar yang jenuh tidak membuat mereka tersadar jika masyarakat sudah tak butuh lagi kredit.

Untuk mempercepat penyaluran kredit, kemudian munculah ide refinancing mortgage. Para pembank/lembaga keuangan menawarkan perhitungan ulang kredit-kredit yang sudah ada. Sasaran mereka adalah orang-orang yang sudah memiliki rumah.

Bunga kredit mereka memang lebih rendah dalam dua tahun pertama, sehingga mereka bisa mencicil lebih rendah, plus pembayaran pajak menjadi kurang. Namun, jumlah utang mereka menjadi membengkak, dan pada tahun ketiga bunga kredit meningkat. Sebuah akhir yang tragis bagi para korbannya.

Timbulnya Krisis

Krisis pembayaran timbul karena kreditor subprime mortgage adalah orang-orang pendapatannya pas-pasan maka kemampuan pembayaran cicilannya juga sangat lemah, sehingga saat para kreditor tersebut tidak mampu membayar cicilan kreditnya, berimbas pada modal perusahaan pemberi kredit ikut terpuruk. Nilai jualnya jadi terkoreksi. Otomatis, para investor yang menanamkan modalnya di kredit subprime mortgage juga ikutan merugi. Parahnya lagi, banyak perusahaan kredit perumahan yang juga bangkrut, karena tidak ada putaran uang yang terjadi dan diperparah dengan jatuhnya nilai agunan dari para penerima kredit. (konsumen). Kredit macet karena tidak mampu meneruskan pembayaran subprime mortgage di AS berjumlah hingga 5,6 juta rumah, dengan rata-rata kredit berkisar USD 100,000 -300,000 per rumah.

Pasar sangat sensitif pada kabar buruk dan kabar buruk ini memicu krisis di Wall Street pada tanggal 2 Agustus lalu, saat BNP Paribas- salah satu bank terbesar di Eropa yang berasal dari Prancis dan sebuah bank Jerman (IKB Deutsche Industriebank) mengalami masalah terhadap investasi subprime mortgage di Amerika.

Selanjutnya, berita terpuruknya subprime mortgage ini mulai terkuak di mana kerugiannya sendiri ditaksir ada sekitar $35 trilyun. Akibatnya, kepanikan pun mulai melanda para investor di lantai bursa New York. Investor lalu mulai menjual saham-saham yang bergerak dalam industri properti. Karena perusahaan yang berkaitan dengan properti di Bursa New York ada sekitar 1/3 dari total kapitalisasi pasar, tak heran, jika bursa saham secara total juga ikut terkoreksi. Investor yang panik, kemudian mulai berpikir untuk mencari alternatif alat investasi yang aman – antara lain via deposito di bank dan investasi di obligasi pemerintah.

Krisis AS Meluas Menjadi Krisis Global

Aksi kepanikan investor di Bursa Saham New York membuat pasar keuangan dunia menjadi saling terkait dan saling berketergantungan satu sama lain. Sentimen negatif dan kepanikan dari Wall Street yang notabene merupakan pasar saham terbesar di dunia dengan cepatnya menjalar ke mana-mana. Investor-investor global raksasa yang tergabung dalam hedge fund ataupun investment bank baik yang secara kebetulan memiliki investasi di subprime mortgage atau tidak, mulai menarik dananya dari pasar modal dan mulai memasukkannya ke dalam investasi yang berisiko lebih rendah. Motifnya kurang lebih sama,, mencoba menghindari risiko kerugian yang lebih besar (cut loss). Maka, tak heran bursa-bursa saham regional dan dunia juga ikut bertumbangan.

Bank-bank yang memiliki investasi di subprime mortgage secara langsung (seperti BNP Paribas di atas), imbasnya tentu ada yaitu kerugian investasi. Kerugian investasi berakibat pada seretnya dana cadangan bank-bank tersebut. Karena lalu lintas keuangan yang begitu cepat di bank, seretnya dana cadangan tersebut bisa berimbas kepada kesulitan likuaditas. Lalu bagaimana dengan bank-bank lainnya? Karena para investor mulai memindahkan investasinya ke tempat yang lebih aman (antara lain ke deposito bank) maka bank pun menerima ‘uang panas’ dari investor. Oleh karena itu, bank pun harus siap-siap menambah cadangannya untuk berjaga-jaga apabila ada penarikan mendadak dari para investor tersebut. Hal tersebut membuat bank cenderung untuk menaikkan bunga pinjaman antarbank. Otomatis lalu lintas pinjam meminjam sesama bank menjadi semakin mahal. Ini lagi-lagi berimbas pada kesulitan likuiditas di dunia perbankan.
Penulis : Alumnus FH Universitas Sam Ratulangi Manado

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar