Senin, 02 Maret 2009

PAKET STIMULUS OBAMA DAN HARAPAN INDONESIA

Krisis keuangan global 2008 dimulai dari Amerika menjalar ke hampir seluruh negara-negara lain. Bursa saham berjatuhan, perusahaan-perusahaan keuangan multinasional bangkrut, terjadi pengurangan pekerja, serta nilai tukar mata uang asia ikut terjerembab.

Pidato pelantikan Barack Obama menjadi penegasan Amerika Serikat untuk bangkit dari keterpurukan. Keterbukaan dan keseriusan diperlihatkan Obama sejak terpilih menjadi presiden.

Sebelum pelantikannya, Obama telah memberikan perhatian yang utama pada masalah ekonomi AS ini. Obama menyampaikan pesan kepada Presiden AS (waktu itu) George W. Bush perlunya industri otomotif Amerika mendapat bantuan dengan cepat dan pasti.

Tercatat bahwa pada 13 Oktober 2008, Obama bahkan minta Kongres melipatgandakan pinjaman untuk industri otomotif dari US$ 25 milyar menjadi US$ 50 milyar, agar lapangan kerja tetap terjaga. Kemudian pada Kamis 8 Januari 2009, dalam pidatonya Obama memohon Kongres dengan sangat agar bertindak berani dan tindak membuang-buang waktu menangani perekonomian Amerika yang begitu membahayakan. Meskipun anggota Kongres, baik dari kubu Demokrat maupun Republik, banyak yang menentang kebijakan pajaknya, Obama yakin, langkahnya dapat meningkatkan lapangan kerja. Terutama lewat insentif pajak untuk sejumlah perusahaan yang mampu membuka lapangan kerja.

Setelah dilantik sebagai Presiden, Kongres AS akhirnya menyetujui paket stimulus ekonomi Presiden Barack Obama senilai US$ 787 miliar. Obama mengandalkan dukungan suara Demokrat karena hampir semua anggota Republik menolaknya. Senat melakukan voting dengan hasil 60-38 suara satu jam setelah House of Representative melakukan voting dengan perbandingan yang setuju 246-183, Jumat malam waktu AS (13/2/2008).Kemudian pada 17 Februari 2009, Presiden Obama menandatangani American Recovery and Reinvestment Act of 2009, sebagai bentuk disahkannya paket stimulus ekonomi dimaksud.

Tujuan Paket Stimulus

Paket ekonomi Obama ini bertujuan untuk dana darurat belanja pemerintah dan pemotongan pajak nasional karena ekonomi AS sedang mengalami resesi. Disamping itu, paket stimulus sebesar 787 miliar dolar AS ini juga untuk menciptakan sedikitnya tiga juta lapangan kerja hingga dua tahun mendatang.

Melalui paket ini Pemerintah AS akan menginvestasikan ratusan miliar dolar di sejumlah sektor termasuk infrastruktur publik dan membantu para konsumen yang membeli barang-barang produksi lokal serta program pengurangan pajak.

Salah satu butir kontroversial program pemerintah tersebut adalah masalah "Amerika Membeli". Dalam koridor program itu, perusahaan-perusahaan yang mendapat suntikan dana dari pemerintah berkewajiban membeli barang-barang produksi lokal seperti baja, semen, dan produk manufaktur Amerika lainnya.
Implementasi paket stimulus ini akan meningkatkan daya beli dan akan menambah lapangan kerja.

Paket pemulihan ekonomi ini memberikan tax break (keringanan pajak) untuk keluarga yang berencana mengirimkan anak ke perguruan tinggi, membeli mobil baru, membeli rumah pertama atau menjadikan rumah pribadi lebih hemat energi.

Tax credit diberikan kepada low-income families yang berpendapatan rendah dan tidak mampu membayar pajak pendapatan. Keluarga miskin dengan tiga anak atau lebih akan memperoleh tunjangan Earned Income Tax Credit. Keluarga menengah dan pembayar pajak kaya akan diberi kelonggaran dari membayar Alternative Minimum Tax.

Dampak Paket Stimulus Obama

Namun, implementasi program tersebut telah melahirkan gesekan dalam hubungan dagang internasional AS.

Dampak Paket stimulus dikuatirkan akan membuat defisit AS akan bertambah dari satu triliun dolar AS sekarang hingga 2 triliun dolar AS, dan memungkinkan hutang luar negeri AS yang telah mencapai 11 triliun dolar AS itu terus menanjak.

Mitra dagang internasional AS mengkhawatirkan meletusnya perang dagang sebagai dampak proteksi pemerintah AS. Perlindungan industri lokal akan menghancurkan sistem perdagangan bebas di seluruh dunia.

Di samping itu, kenyataan menunjukkan bahwa paket stimulus Obama untuk pemulihan ekonomi tidak seberapa dibanding keterpurukan dan lebarnya masalah yang melilit perekonomian negara adidaya itu. Bahkan, AS membutuhkan ratusan miliar dolar lainnya guna memutar kembali roda perekonomian negaranya. Sebagai contoh, industri otomotif AS setelah memperoleh suntikan dana pemerintah sebesar 17 miliar dolar. Tidak lama kemudian, pemilik industri suku cadang juga mengajukan permohonan dana sebesar 25 miliar dolar. Kebutuhan permintaan Dollar oleh AS ini dikuatirkan akan membuat uang Dollar AS akan berkurang di pasaran dunia dan dampaknya akan meningkatkan nilai jual Dollar AS terhadap mata uang negara-negara lain termasuk Rupiah Indonesia.

Harapan Indonesia

Perekonomian Indonesia akan menerima dampak positif dengan kebijakan stimulus yang dilakukan Presiden AS yang baru, Barack Obama. Jika itu berjalan mulus, dalam waktu dekat diharapkan terjadi kelonggaran likuiditas. Hal ini di diungkapkan Gubernur BI, Boediono usai menghadiri MoU dengan Menkeu soal Penempatan dana pemerintah di BI, Jumat (30/1). Apalagi tingkat bunga The Fed yang sudah mendekati nol akan mendorong longgarnya pengetatan kredit global. Dengan kelonggaran tersebut maka arus dana global akan masuk ke Indonesia. Hal ini merupakan kabar baik bagi Indonesia selain perkiraan bunga The Fed sudah mentok di kisaran 0%.

Namun timbul keragu-raguan di Indoensia bahwa paket stimulus Obama ini imbasnya akan memakan waktu bagi Indonesia. Keraguan ini didasarkan bahwa paket stimuls Obama ini ditujukan untuk mengangkat daya beli rakyatnya, membuka peluang-peluang lapangan kerja untuk memperkecil tingkat pengangguran. Dalam hal ini, bisa saja Pemerintah AS mengambil kebijakan menghimbau rakyatnya memakai produk dalam negerinya sendiri dan membatasi impor dari negara lain.
Penulis : Alumnus FH Universitas Sam Ratulangi Manado

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar